id
Bøger
Muhammad Vandestra

Kisah Hikayat Nabi Isa AS Putra Siti Maryam & Burung Merpati Yang Tercipta Dari Tanah Liat

(Ingatlah), ketika Allah SWT mengatakan: «Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajarkanmu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah liat (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. (Al-Ma’idah : 110)
Dahulu kala, diriku ini hanyalah sebongkah tanah liat, kemudian dengan kuasa Allah SWT, aku pun menjelma menjadi seekor burung. Dari sebongkah tanah yang tak mampu bergerak banyak, Allah mengizinkanku menjadi seekor burung yang mampu bergerak sendiri, juga terbang bebas ke angkasa luas. Itulah aku.
Mungkin beginilah aku akan memperkenalkan diriku kepada dunia.
Dengan kuasa Allah SWT, Ia memberikan tanda-tandanya untuk kehadiranku dalam surat cintanya yang berbunyi seperti ini :
“Ingatlah, ketika Allah berfirman, «Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Rohulkudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) Hikmah, Taurat dan Injil. Dan ingatlah ketika kamu membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian kamu meniupnya, lalu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku.” {Al-Maidah (5) :110)}
Itulah sebenar-benarnya aku sebelum dunia.
Sebongkah tanah…
Di masa itu, akulah putri tanah. Seorang putri walaupun hanya di kalangan tanah.
Lalu aku pun jatuh cinta. Waktu itu ketika Isa, putra Ibunda Siti Maryam, menyentuhku. Ketika aku jatuh cinta, tubuhku yang dibuat dari tanah liat, mulai berubah perlahan-lahan.
Bagaimana bisa aku mengungkapkan wangi tanah yang mula-mula ada di langit?
Saat itu aku mencoba tenang, dan merasa cukup dengan kehadiranku sebagai sebongkah tanah. Aku sama sekali tidak berani bermimpi, karena tanah memang tidak punya kemampuan bermimpi. Tapi walaupun aku tak bisa bermimpi, aku merasa cukup dengan kehadiranku. Sejarahku sebelum menjadi tanah bumi sudah cukup panjang. Sebelumnya, aku bahkan pernah menjadi bagian dari matahari. Kemudian milyaran tahun berlalu dan aku belum juga jatuh cinta, sehingga bara matahari pun memadam, aku berubah menjadi batuan karang yang akhirnya menjadi bagian sebuah planet yang disebut Bumi, tepatnya di tempat yang kini dikenal orang dengan nama Palestina. Aku ini bagian dari tanah Palestina.
Lihatlah seberapa banyak penderitaanku. Ribuan tahun telah berlalu tanpa aku bisa merasa jatuh cinta.
45 trykte sider
Har du allerede læst den? Hvad synes du om den?
👍👎
fb2epub
Træk og slip dine filer (ikke mere end 5 ad gangen)